Kamis, 02 Mei 2013

Oleh : Udin Saifuddin


       Terhenyak hati kita mendengar dan mengetahui berita bahwa ustadz Jefri Al Buchori telah berpulang ke hadirat Allah SWT, secara mendadak akibat kecelakaan tunggal di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan. Peristiwa tersebut telah mengundang sebagian kaum muslimin di Jakarta, bahkan dipelo sok Tanah Air, karena beberapa hari sebelumnya Ustadz Jefri Al Buchori masih bertausiyah dibeberapa tem-pat dan tampil ditelevisi.
Baru kali ini, bahwa Masjid Istiqlal yang megah itu untuk men-sholatkan seseorang yang dihadiri oleh ribuan jamaah. Sampai hari keenam, masih banyak pelayat yang datang ke rumah duka dan kekuburan almarhum.
Komentar rekan-rekan ustadz sejawatnya antara lain bahwa Ustadz Jefri meninggal dalam kondisi dalam kondisi setelah bertaubat kepada Allah SWT, dan meninggalkan gemerlap dunia hiburan dan narkoba.
Kita telah kehilangan tokoh muda yang dengan tausiyah-tausi-yahnya diterima oleh seluruh kalangan baik tua maupun muda. Tausiah-tausiahnya telah membe-rikan pencerahan dikalangan artis dan generasi muda bahkan sampai model busananya pun menjadi trend busana muslim tua sampai muda.
Nampaknya kita merindukan tausiyah-tausiyah semacam itu di-para ustadz yang membawa keda-maian dan menyampaikan materi kemuliaan dinul Islam sebagai agama yang membimbing umat menuju kehidupan yang lebih baik dalam ridha Allah SWT. Bukan dakwah yang menonjolkan kekerasan-kekerasan, perbedaan-perbedaan fahamyang ekstrim yang membawa umat ke dalam perpecahan karena faham yang sempit, yang jauh dari nilai-nilai agama yang sebenarnya yaitu rahmatan lil alamiiin. Setiap generasi selalu menampilkan tokoh-tokohnya yang mewakili kondisi masyarakat pada zamannya. Kita berharap akan muncul Jefri-Jefri baru yang mewakili zamannya nanti.
Kematian, jika datang tak dapat ditangguhkan atau dimajukan walau sedetikpun. Allah SWT berfirman : 
“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.”
(QS. Ali Imran [3]: 145).

Menghindar dari kematian.

Tersebutlah seorang menteri pada era Nabi Dawud AS, bernama Jalil Al Qadri. Ketika Nabi Dawud meninggal, ia menjadi ia pun menjadi menter pada era Sulaiman bin Dawud. Di suatu pagi, Sulaiman mengadakan majlis bersama dengan menteri ini. Kemudian seorang laki-laki masuk member salam dan membisikkan sesuatu ketelinga Nabi Sulaiman AS. Lelaki ini memandang tajam kepada Jalil, sehingga ia ketakutan. Ketika lelaki itu keluar dari majlis, Jalil Al Qadri bertanya kepada Sulaiman, “ wahai Nabi Allah, siapakah lelaki yang baru saja keluar tadi ?, sungguh pandangan matanya membuat aku takut .” Nabi Sulaiman AS menjawab, “ia adalah malaikat maut yang menjelma menjadi manusia, ia mendatangiku.” Seketika gemetarlah sang menteri dan menangis. Kepada Sulaiman, ia berkata, “wahai Nabi Allah, demi Allah aku memohon kepadamu agar kau perintahkan angin bertiup membawaku ke tempat yang paling jauh, ke India.” Nabi Sulaiman memenuhinya. Sang menteri pun terbang tertiup angin. Keesokan harinya, malaikat maut datang kembali ke hadapan Nabi Sulaiman sebagaimana kemarin. Nabi Sulaiman AS berkata, “ kemarin kau telah membuat sahabatku gemetar, mengapa engkau memandanginya begitu tajam ?”. Malaikat itu berkata, “wahai Nabi Allah, aku mendata-ngimu di pagi hari. Aku terkejut mengetahui orang itu masih bersamamu disini, padahal Allah telah memerintahkanku mencabut nyawanya selepas zuhur di India.” Lalu apa yang kau lakukan ?, Tanya Sulaiman. “Aku pergi ketempat Allah perintahkan kepadaku untuk mencabut nyawanya disana, lalu aku mencabut nyawanya”, jawab malaikat itu.

“Katakanlah: "Sesungguhnya kema-tian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS. Al Jumuah [62]: 8).
Tak ada seorang pun yang tau kapan dan dimana kita dan bagaimana kita akan mati, Itu adalah rahasia Allah SWT. Oleh karena itu yang penting bukan masalah kematiannya, tapi adalah sejauh mana persiapan kita menghadapi kematian itu. Bekal adalah suatu persiapan, tanpa persiapan tentu akan kesulitan dalam mengarungi perjalanan yang panjang dan melelahkan. Oleh karena itu, “Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah taqwa.” (QS. Al Baqarah [2]: 197).
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah Ustadz Jefri Al Buchori, menerima iman islamnya, mengampuni semua dosa-dosanya dan menempatkan beliau ditempat yang mulia di sisi Allah SWT.”
Selamat jalan Ustadz Jefri Al Buchori.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar