Selasa, 13 November 2012

Hijrah Momentum Pembinaan Umat


Artikel ini diambil dari
Buletin Da'wah Asy Syaakiriin
Edisi Jum'at, 027 - 16/XI/XII
Penulis : Dra. Hj. Witra Moerad

Hijrah secara bahasa :  pindah. Secara terminology : mobilitas demografis dari satu tempat ke tempat lain. Peristiwa hijrah ditandai oleh pergerakan umat Islam pada masa periode Makkah berpindah ke Habasyah pada awalnya, lalu Nabi saw mencoba merambah ke Thaif,meski gagal dan akhirnya ke Yatsrib (Madinah) yang di sebabkan oleh adanya tekanan yang semakin zhalim oleh kaum kuffar terhadap umat Islam. Dan usaha Rasulullah saw bersama umat Islam untuk mendapat peluang baru meluaskan da’wah Islamiyah serta yang terutama untuk menyelamat aqidah umat dari kekejaman tangan-tangan jahiliyah kafirin Makkah. 

Ibnu Hajar  al.Asqalani dalam kita Fathul Barri menjelaskan : ”Hijrah adalah berpindah dari budaya tidak baik kepada budaya yang baik.

Tokoh yang sangat berperan dalam peristiwa hijrah di samping Rasulullah saw dan Abu Bakar adalah sahabat Umar bin Khaththab. Memiliki cermin kepribadianyang patut dijadikan qudwah dan uswah hasanah bagi setiap pemimpin.


Umar bin Khaththab adalah sosok yang sederhana dan peduli pada umatnya, beliau selalu berkeliling mengamati keadaan umat di bawah kepemimpinannya. Pernah bertemu dengan seorang anak gembala kambing yang mengingatkan tentang kekuasaan Allah yang Maha Melihat. Tersentuh hatinya mendengar tangisan seorang anak yang tengah kelaparan,lalu beliau sendiri memanggul gandum sebagai wujud rasa tanggung jawab.
-        
      Tegas pendirian dan sikap dalam menjalankan urusan agama.
-          Tangkas dan disiplin di tengah medan peperangan.
-          Cerdas dan akurat dalam membuat keputusan.
-          
             Memiliki wawasan yang luas selalu ingin belajar dan rajin bertanya kepada Rasulullah saw atau sahabat lainnya.
-          Berpihak kepada yang benar.
-          Membela kaum dhu’afa dan orang lemah.
-          Kaya akan idea-idea yang brilliant

Dalam konteks kekinian umat Islam rasanya masih relevan mengikuti keteladan Umar bin Khaththab,  sehingga kualitas umat menjadi lebih baik dan meningkat.
·        Sehingga umat Islam mempunyai  keyakinan diri dan ghirah (semangat) menghidupkan citra Islam seperti masa Rasulullah saw dan para sahabat.
·       Da’wah dan aqidah umat semakin kokoh penuh perjuangan untuk menjaga keutuhan ajaran Islam yang hakiki.
·        Dinamisasi kehidupan beragama mendorong umat semakin berjuang dan mencintai Islam.  Seorang penyair Mesir  Syauqi Beik menulis :”Berdirilah tegak memperjuangkan aqidah selama hayatmu. Karena hidup itu bermakna jika diisi aqidah yang murni dan perjuangan.

Setiap memasuki tahun baru Hijriyah sebaiknya kita melakukan
·         Muhasabah dan iintrospeksi diri sejauh apa ketaatan kita, dan umat dalam menjalankan perintah dan meninggalkan peraturan yang di canangkan Allah untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak.
·         Evaluasi  terhadap setiap kegiatan dan aktifitas hidup beragama dan bermasyarakat. Sudah baik dan khusyu’ kah shalat kita? Masihkah kita menghitung-hitung harta yang akan diinfakkan? Berapa dalam pemahaman terhadap makna al.Qur’an sebagai pedoman hidup, dan sudahkah diaplikasikan dalam hidup sehari-hari?
·         Muraqabah (mawas diri). Bagaimana persiapan dan packaging amal-amal yang akan dibawa ke akhirat kelak? Sementara Allah swt telah mengingatkan:”Wahai orang-orang yang beriman ! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang akan diperbuatnya untuk esok ( di akhirat), dan bertqwalah kepada Allah. Sunggau Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. Q.S al.Hasyr [59]:18

Hijrah rasanya perlu dilakukan kapan saja dan oleh siapa pun yang menginginkan adanya perbaikan dalam kehidupan, baik secara budaya, kemasyarakatan apalagi dalam kehidupan beragama. Maka berhijrah berarti meninggalkan semua ajaran yang akan merusak aqidah, mempermalukan dan menjatuhkan nilai-nilai agama Islam.
Tinggalkan segala bentuk khurafat, tathayyur dan bid’ah. Tidak lagi menunggu hari baik bulan baik untuk melakukan pernikahan, pindah rumah atau apapun. Mendalami cara-cara Rasulullah saw dalam menegakkan ibadah shalat, shiyam, haji dan ibadah lainnya agar ibadah tidak menjadi sia-sia.

-                    Melakukan ibadah pertama niat ikhlas karena Allah semata. Sabda Nabi saw,’Allah tidak akan menerima amal ibadah yang dilakukan, kecuali hanya dilakukan karena ingin mendapatkan keridhaan Allah semata. H.R an.Nasa-i
-                                 Lalu muttaba’atur rasul (mengikuti petunjuk pelaksanaan Rasulullah saw). Bahkan di dalam al.Qur’an Allah telah menyatakan dengan tegas: ”Katakanlah Muhammad,’Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”Katakanlah Muhammad,’Taatilah Allah dan Rasul . jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir (ingkar). Q.S Ali Imran [3}:31-32
Berhijrah juga berarti meninggalkan cara hidup menurut budaya dan tradisi, beralih kepada cara hidup yang Islami sesuai dengan panduan al.Qur’an yang telah diimplementasikan oleh Rasulullah saw dalam kehidupan beliau. Melakukan jual beli (berbisnis) Islami, berpakaian Islami, makan minum Islami, pola pikir Islami,bergaul Islami, sehingga secara keseluruhan dan keutuhan cara hidup Islami tercerminkan dalam keseharian. “Wahai orang-orang yang beriman ! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu. Q.S al.Baqarah [2]:208.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar