Rabu, 13 Juni 2012

Meneladani Sunah Rasul

MENELADANI SUNNAH RASUL
Oleh : Miftahurrohman, SHI


S
ecara bahasa sunnah berarti jalan. Sedang menurut istilah ilmu fiqih yaitu suatu perbuatan yang berpahala bila dilakukan dan tidak berdosa bila ditinggalkan. Meskipun demikian sebagai realisasi cinta kepada Rasulullah SAW, kita harus memposisikan perbuatan sunnah sejalan dengan ‘rekomendasi’ Allah SWT seperti yang telah disebutkan di atas.
Ibnu Katsir berkata “Ayat ini adalah dalil yang kuat untuk meneladani Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam ucapan perbuatan dan sikap beliau.” Meniru dan meneladani seseorang adalah manifestasi cinta. Padahal Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu hingga lebih mencintai aku daripada orang tuanya anak-anaknya dan segenap manusia. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Anas RA). Karena itu pertanda seberapa besar cinta kita kepada Rasulullah SAW diantaranya dapat diukur dengan perhatian kita dalam meneladani tiap ucapan dan tindak tanduk beliau. Tapi ironinya karena merasa tak akan mendapat dosa umat Islam banyak yang meremehkan masalah-masalah sunnah. Sebaiknya kita mengikuti jejak Ibnu Umar RA yang senantiasa berusaha menerapkan tiap apa yang ia ketahui  dari  perbuatan   Rasulullah   SAW.
Hingga kini banyak masalah sunnah yang terlupakan bahkan diremehkan oleh umat. Adapun diantara sunnah-sunnah yang sering dilupakan dan diremehkan adalah sebagai berikut. Pertama, Berkumur dan istinsyaq. Ketika berwudhu banyak orang yang tidak berkumur dan istinsyaq. Ada pula yang hanya berkumur tetapi tidak melakukan istinsyaq. Padahal dua-duanya merupakan sunnah Nabi SAW. Abdullah bin Zaid meriwayatkan tentang cara berwudhu bahwasanya Rasulullah SAW : “berkumur dan istinsyaq dari satu telapak tangan. Beliau melakukan hal itu tiga kali.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Kedua, berwudhu sebelum mandi dari hadats besar. Jarang orang memperhatikan tata cara mandi dari hadats besar menurut tuntunan sunnah. Dalam benak kita yang terpikir hanyalah bagaimana bisa menghilangkan hadats besar. Adapun menurut sunnah diantaranya adalah mengawali mandi tersebut dengan berwudhu. Secara rinci cara mandi dari hadats besar menurut tuntunan Rasulullah dijelaskan dalam hadits Aisyah RA ; “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bila mandi dari jinabat memulai dengan mencuci kedua tapak tangannya lalu berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat kemu-dian memasukkan jari-jari beliau ke dalam air dan beliau menyela-nyela akar rambutnya lalu menyiram kepalanya dengan tiga kali cidukan dari kedua tangannya lalu menyiram seluruh kulit . (HR. Bukhari No. 248 dan Muslim No. 316).
Ketiga, mendatangi shalat dengan tenang. Bila iqomat telah dikuman-dangkan atau shalat jama’ah telah didirikan kita banyak menyaksikan orang-orang berlarian untuk menda-patkan ruku’ bersama imam. Di samping jauh dari sunnah perbuatan itu mengakibatkan pelakunya tidak bisa khusyu’ dan mengganggu mereka yang sedang shalat. Untuk menanggulangi hal tersebut hendaknya kita datang berjamaah lebih awal yang dengan begitu kita bisa melakukan perbuatan sunnah yang lain. Shalat sunnah qabliyah misalnya. Petunjuk cara mendatangi shalat berjamaah telah diberikan Rasulullah SAW. Beliau bersabda “Bila shalat telah didirikan jangan men-datanginya dengan tergesa-gesa tetapi datanglah dengan berjalan secara tenang. Apa yang kamu dapatkan maka shalatlah dan apa yang kamu ketinggalan darinya maka sempurnakanlah.(HR. Muslim dari Abu Hurairah).
Keempat, Merapatkan pundak dengan pundak dan telapak kaki dengan telapak kaki dalam shaf shalat jama’ah. Mayoritas shaf-shaf saat shalat jama’ah dibanyak masjid selalu kita dapati kekurangan. Misalnya tidak lurus atau kurang rapat. Yang lebih menyedihkan ada orang yang marah bila diingatkan. Inilah potret kebodohan umat tentang sunnah. Padahal Anas RA meriwayatkan bahwasanya Rasulullah  bersabda “Luru-skanlah barisan-barisan kalian sesung-guhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku. Dan tiap orang dari kami merapatkan pundaknya dengan pundak kawannya dan telapak kakinya dengan telapak kaki kawannya.” (Al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 4414). Hadits di atas menegaskan bagaimana besarnya perha-tian Rasulullah SAW dalam soal lurus dan rapatnya barisan shalat.
Kelima, Shalat malam atau tahajud. Banyak orang mengeluh dirinya sulit sekali bangun malam. Memang benar bangun malam itu tidak mudah. Ia membutuhkan usaha dan kesabaran. Untuk memudahkan bangun malam ada beberapa cara diantaranya, tinggalkan maksiat dan dosa, sebab keduanya menghalangi manusia dari keta’atan. Niatlah sungguh-sungguh untuk bangun dan ikhlas karena Allah, baik pula jika disertai do’a memohon diberi kekuatan bangun tengah malam.
Bersegera tidur, begadang malam hanya akan membuatmu terlambat ba-ngun. Apalagi jika tiada manfaatnya. Sekedar ngobrol misalnya. Bahkan hingga untuk pekerjaan penting sekali-pun Anda harus membatasi waktunya. Tidak makan terlalu banyak menjelang tidur. Makan banyak akan membuat orang malas beribadah. Membaca do’a-do’a yang disunnahkan ketika mau tidur. Meletakkan alarm atau sejenisnya sehingga bisa bangun sesuai dengan waktu yang diinginkan. Maka usahakanlah selalu shalat malam. Mudah-mudahan do’a atau air mata kita di malam bisa menye-lamatkanmu dari siksa Neraka. Rasulullah SAW ditanya “Shalat apakah yang paling utama setelah shalat fardhu?” Beliau menjawab “Shalat ditengah malam.” Ia bertanya “Dan puasa apakah yang lebih utama setelah Ramadhan?” Beliau men-jawab “Puasa pada bulan Muharram.
Keenam, memohon perlindungan kepada Allah dari siksa kubur dan neraka Jahannam dari fitnah kehidupan dan kematian fitnah Dajjal dan dari dosa serta hutang. Mohon perlindungan tersebut diucapkan menjelang akhir do’a tasyahud dalam shalat. Diriwayatkan oleh Urwah bin Zubair berkata Ai’syah RA mengabarinya bahwasanya Nabi SAW dalam shalatnya berdo’a “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari azab kubur dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah Dajjal dan aku berlindung kepadamu dari fitnah kehidupan dan kematian. Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari dosa dan hutang. Shahih Al-Bukhari, no. 1377.
Ketujuh, Berdo’a sebelum salam. Abdullah bin Amr meriwayatkan dari Abu Bakar As Shiddiq RA bahwasanya beliau berkata kepada Rasulullah SAW “Ajar-kanlah kepadaku do’a yang kupanjatkan dalam shalat.” Rasulullah SAW menjawab “Ucapkanlah “Ya Allah sesungguhnya aku terlalu banyak menganiaya diriku sendiri dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau maka ampunilah aku dari sisiMu dan sayangilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” kemudian hendaknya ia memilih do’a yang disenanginya lalu berdo’a dengannya. Do’a ini dibaca setelah do’a mohon perlindungan selanjutnya kita membaca do’a yang kita kehendaki. Alangkah baiknya kita membiasakan berdo’a pada waktu-waktu yang ditun-jukkan Rasulullah SAW. Di waktu yang mustajab tersebut kita meminta kepada Allah kebaikan dunia dan akherat.
Kedelapan, Shalat sunnah di ru-mah. Banyak manfaat shalat sunnah di rumah di antaranya; Shalat sunnah di rumah adalah tuntunan Rasulullah SAW. Melakukannya berarti menghidupkan dan meneladani sunnah Rasulullah SAW. Shalat sunnah di rumah dengan sendirinya mengajarkan cara shalat yang benar kepada anggota keluarga terutama kepada isteri dan anak-anak.
Ibnu Umar RA berkata Rasulullah SAW bersabda “Lakukanlah sebagian shalat-shalat mu di dalam rumah dan jangan jadikan rumah-rumahmu sebagai kubu-ran. (HR. Bukhari no. 1187, dari Ibnu ‘Umar). Dalam hadits lain, dari Zaid bin Tsabit, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari No. 731 dan Ahmad 5: 186, dengan lafazh Ahmad). Nah, itulah sedikit gambaran bagaimana meneladani rasulullah, bagai-mana dengan kita?
Wallahua’lam bisshowab
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar